
Mau mengkritik atau memuji, sebaiknya memahami latar
belakang, dan perjalanan pembuatan film itu. Itulah
insan film, yang tentu auranya berbeda dengan aura
liqa’ atau pengajian lainnya. Meskipun aku sendiri
tidak terlalu berminat untuk menonton film itu, tetapi
saya mengapresiasi perjuangan Hanung. Untuk itulah
saya postingkan pengakuan hanung ini….
Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama.
Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah
bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu:
Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata
ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu
buatku film agama tidak lebih dari sekedar
petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan
baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya
nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera.
Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat
Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama.
Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba
berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu
merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang
menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin
Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom
X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi
difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh
bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama
adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat
kembali dirinya: Kotor atau bersih?
Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku
tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah
tidak ada uang, katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak
ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin
waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di
IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku
terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir
Sekolah, Jomblo, dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin
bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film
tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari
membuat film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller.
Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa
saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya
minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar
2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti
pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10
milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak
berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta
penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah
dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah,
dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak
berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab
itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba,
dibohongi … diakali.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
Wallohu … Aku melihat islam dari dekat sekali.
Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku
menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku
mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar
tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku
melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah
buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus
dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu
terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …
Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan
murid-muridnya. ‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku
mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di
sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah
uran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu
Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku,
Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam
sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang
islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang
Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa
daripada ke Kairo.
‘Saya akan membuat film ini eksotis, pak’ begitu kata
saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora.
Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku
libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku
sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang
tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan
lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah,
yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin
sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah
diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC
tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca.
Diantara banyak yang berharap, mereka juga
menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang
bilang : ‘Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan
difilmkan. Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang bilang
‘Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya
bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’
Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor
MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang
dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan
seorang gadis berjilbab. Mereka bilang …
‘Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha’
sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis
berjilbab itu.
‘Kami dari organisasi Islam’ lanjutnya ‘Kami sangat
concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin
film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran
Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El
Shirasy) sudah tahu tentang ini.’
Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku … malu
sekali.
Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini
harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak
begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng
dan ‘menjual’. Karena itu kami menggandeng ketua PP
Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu
dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan
sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh
Fahri. Semula kami membuka casting di
pesantren-pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan
berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar
seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah
menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler. Oleh sebab
itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting.
Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat
film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di
Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita
hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan
mencambuk kita dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang
ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi
diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas
‘Kesucian Fahri’. Banyak diantara mereka beracting
’sok suci’ dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut
asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti
ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang
yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi
lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak
setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang
lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa
dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak
lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng.
Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya
pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak
canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat
dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna.
Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya
mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril.
Aku
berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan
perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan
dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri
bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak
sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak
sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun
mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca
fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi
Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan
perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang
membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai
media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali
tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin
membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi
menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami
selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru
kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar
mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang
abik. terima kasih Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula
kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi
setelah kami melakukan riset disana, sangat
mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari
umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir
bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak
hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi
setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda
lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri.
Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril.
Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih
muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas.
Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak
bisa dipungkiri ‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias
belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat
untuk mencari pemain indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik
sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau
bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah
siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti
itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik.
Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak
bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng
casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan
bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan
Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine
sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah
berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku
bilang padanya …
‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen
dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha
yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan
memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam
Islam seperti di India.’
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan
untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini.
Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di
India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik
tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di
Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai
Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara
privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo.
Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus
berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya
kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan
Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat
keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah
sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti
sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan.
Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman
karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi
aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar
di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman
Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan,
Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer
tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton
Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang
pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat
perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film
AAC
menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai …
Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …
Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku
ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring
dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan
yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri
dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan
keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd
(dalam novel digambarkan sebagai seorang professor
agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya
adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar,
bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara
yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan
itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih
mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch
Kuch Hotahai …
Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini
tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film.
Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku:
tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan
… cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar
kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju
kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih
kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung
mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah
membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang
indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan
terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku
yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama.
Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu.
Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat
dengan Islam …
La haula wa kuwwata illa billahi …








March 23, 2008 at 7:28 am
kita benar2 ngerasa puas banget setelah nonton film ini and menurut qta hasil kerja mas hanung bagus banget.terima kasih ya karena udah ngebuka mata kami tentang islam dan cinta lwt film ini
March 23, 2008 at 8:21 am
untuk mas hanung, sungguh salut dan kagum atas usaha dan konsistensinya dalam mempertahankan hakikat novel ayat ayat cinta kedalam sebuh film. Meskipun film ini tak sempurna, karena belum sesuai dengan novelnya. namun pada hakikatnya memang segala sesuatu tidak ada yang sempurna selain Allah.Novel Ayat ayat cinta memang sangat disukai oleh masyarakat muslim, termasuk saya yang sudah membacanya ketika pertama kali novel itu terbit,bahkan saya sudah membacanya ketika koran republika memuat novelnya secara bersambung.saya sangat berharap semoga film ini dapat memotifasi diri mas hanung dan sutradara lainnya untuk membuat film film bertemakan religi yang disampaikan secara jujur dan bijak.karena saya dan mungkin masyarakat muslim sangan dan amat jenuh dengan film yang bertemakan horor dan sensualitas semata. SEMANGAT.